Ketika masih duduk di bangku SMP di Sigompulon-Tarutung - yang terletak persis di samping rumah orang tuaku, setiap pagi sebelum bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah, setelah membersihkan ruang makan keluarga, aku masih harus menyapu sebagian halaman rumah sambil memasak air minum untuk seluruh anggota keluarga - untuk kebutuhan air minum panas di termos sepanjang hari.
Air tersebut dimasak dengan daun-daun yang berjatuhan dari pohon beringin yang tumbuh besar di samping rumah. Daun-daun beringin yang menguning dan cukup lebar itu telah kami keringkan sebelumnya: menjemurnya dengan sinar matahari, lalu dimasukkan ke dalam karung-karung plastik sebagai stok. Untuk tujuh liter air minum, diperlukan kira-kira satu karung daun beringin kering, yang dimasukkan dengan kiat tersendiri ke bawah tungku supaya api tak berhenti menyala - memanaskan air. Apabila api sempat berhenti menyala maka asap tebal yang juga memungkinkan air minum bau asap akan segera datang. Oleh karena itu tugasku juga mengupayakan supaya api terus menyala.
Nyala api yang membakar daun-daun kering tersebut biasanya terus menerus menjalar di antara daun-daun kering yang kemudian menghasilkan debu-debu, hingga akhirnya mendidih. Dulu, setiap kali pekerjaan itu selesai, aku tidak telalu memperhatikan debu sisa bakaran, melainkan air yang telah berhasil dididihkan.
Manusia sering sekali cepat-cepat hanya memperhatian apa yang dihasilkan oleh seseorang, atau apa yang dihasilkan sebuah organisasi maupun sebuah masyarakat. Mereka menjadi lupa untuk ikut juga memperhatikan hal-hal yang turut menopang dan mendukung hasil/prestasi yang bisa diraih tersebut.
Sesungguhnya, tidak seorangpun dari antara kita (manusia yang lemah ini) bisa berhasil tanpa bantuan orang lain! (^)